Sunday, February 14, 2016

Rezeki Itu Milik Allah


Kita melihat hidup orang lain begitu nikmat, rupanya dia menutup kekurangannya tanpa perlu berkeluh kesah. Kita melihat hidup teman-teman tidak ada duka dan kepedihan, rupanya dia pandai menutup dukanya dengan bersyukur dan redha. Kita melihat hidup saudara kita tenang tanpa ujian, rupanya dia begitu menikmati badai hujan dalam kehidupannya. Kita Aku melihat hidup sahabat begitu sempurna, rupanya dia berbahagia dengan apa yang dia ada. Kita melihat hidup jiran sangat beruntung, ternyata dia selalu tunduk pada Allah untuk bergantung.


Setiap hari kita belajar memahami dan mengamati hidup setiap orang yang kita temui.Ternyata kita masih kurang mensyukuri nikmat Allah. Di satu sudut dunia lain masih ada yang belum memiliki apa yang kita ada saat ini. Allah tidak pernah mengurangkan ketetapan-Nya. Hanya kita yang masih saja mengkufuri nikmat suratan takdir Ilahi.Maka kita tidak perlu iri hati dengan rezeki orang lain. Mungkin kita yang tidak tahu di mana letaknya rezeki. Sebenarnya rezeki kita ada di mana kita berada.


Dari lautan biru, bumi dan gunung, Allah telah memerintahkannya menuju kepada kita.Allah menjamin rezeki kita sejak dalam kandungan ibu lagi.Amatlah keliru bila bertawakkal rezeki dimaknai dari hasil bekerja.Kerana bekerja adalah ibadah, sedang rezeki itu urusan-Nya..Melalaikan kebenaran dan gelisah dengan apa yang dijamin-Nya, adalah kekeliruan berganda..Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati.Mereka lupa bahawa hakikat rezeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tetapi apa yang telah dinikmati.Rezeki tisak selalu terletak pada pekerjaan kita, Allah menaruh sekehendak-Nya.

Siti Hajar berulang-alik dari Safa ke Marwah, tetapi air Zam-zam muncul dari kaki anaknya, Ismail. Ikhtiar itu perbuatan. Rezeki itu kejutan.Dan yang tidak boleh dilupakan, setiap hakikat rezeki akan ditanya kelak, "Dari mana dan digunakan untuk apa"...Kerana rezeki hanyalah "hak pakai", bukan "hak milik"...Halalnya dihisab dan haramnya diazab.Maka, kita tidak boleh merasa iri pada rezeki orang lain.Bila timbul rasa iri pada rezeki orang, sudah seharusnya juga iri pada takdir kematiannya.

[Adaptasi dari artikel Zon Kuliah]

No comments:

Post a Comment