Monday, February 20, 2017

Amalan Akan Dihisab


*Semua Amal Manusia Akan di Perlihatkan dan di Adili di Yaumul Hisab*

Yaumul hisab atau hari perhitungan amal adalah hari dimana Allah memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya tentang amal mereka. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ (25) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ (26)

Maksudnya : “Sungguh, kepada Kami-lah mereka kembali. kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kami-lah membuat perhitungan atas mereka.” (Surah al-Ghasyiyah ayat 25 – 26).

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa sallam sering berdoa di dalam solat dengan mengucapkan:

اَللَّهُمَّ حَاسِبْنِيْ حِسَابًا يَسِيْرَا

"Allohumma haasibni hisaaban yasiiro (Ya Allah, hisablah diriku dengan hisab yang mudah.” (Hadis Riwayat Ahmad)

Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya tentang apa itu hisab yang mudah? Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa sallam menjawab: “Allah memperlihatkan kitab (hamba)-Nya kemudian Allah memaafkannya begitu saja. Barangsiapa yang dipersulit hisabnya, nescaya ia akan binasa.” (Hadis Riwayat Ahmad, VI/48, 185, al-Hakim, I/255, dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitaabus Sunnah, no. 885. Hadis ini dinilai sahih oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi).

Apakah Binatang Juga Dihisab?

Sesungguhnya makhluk yang pertama kali diadili oleh Allah Ta’ala adalah binatang, bukan manusia ataupun jin. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْ (5)

Maksudnya : “Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (QS. At-Takwir: 5), yakni dikumpulkan di hari Kiamat untuk diadili.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ طَائِرٍ يَطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلاَّ أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ (38)

Maksudnya : “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) sepertimu. Tiadalah Kami lupakan sesuatu apapun di dalam Al-Kitab kemudian kepada Rabb-lah mereka dihimpunkan.” (Surah al-An’aam ayat 38)

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Pada hari kiamat kelak, seluruh binatang akan dikumpulkan, sedangkan manusia menyaksikannya. Kemudian binatang-binatang itu diadili, sehingga binatang yang tidak bertanduk akan menuntut balas terhadap binatang bertanduk yang telah menanduknya di dunia. Setelah binatang tersebut diqisas, Allah akan mengubahnya menjadi tanah. Allah melakukannya untuk menegakkan keadilan di antara makhluk-Nya.” (Tafsiir Juz ‘Amma, hal. 70)

Hisabnya haiwan ini disaksikan oleh para malaikat, orang-orang yang beriman dan juga orang-kafir. Setelah binatang diadili, Allah Ta’ala berfirman: “Jadilah tanah!” Maka binatang-binatang itu berubah menjadi tanah. Tatkala melihat hewan itu diubah menjadi tanah, orang-orang kafir itu mengatakan, “Alangkah baiknya jika aku menjadi tanah.” Inilah salah satu makna firman Allah Ta’ala:

وَيَقُوْلُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا (40)

Maksudnya : “Dan orang kafir itu berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku menjadi tanah saja.” (Surah an-Naba ayat 40).

Hisabnya seorang mukmin, iblis, kafir dan munafiq.

Allah telah berjanji bahawa para pelaku maksiat dan dosa, tempat mereka di akhirat kelak adalah di neraka. Bagi syaitan, Iblis , orang-orang kafir dan munafiq ia akan berada di neraka buat selama-lamanya. Namun, bagi orang Islam yang berdosa (tetapi tidak mensyirikkan Allah), mereka akan tetap diseksa di neraka, walaupun akhirnya akan turut menempuh alam syurga.

Sesungguhnya Allah mengadili hamba-Nya yang mukmin seorang diri pada hari kiamat, tidak seorang pun yang melihatnya dan tidak seorang pun yang mendengarnya. Allah Ta’ala benar-benar menutupi aibnya sehingga tidak seorang pun yang mengetahuinya. Allah menunjukkan kesalahan-kesalahannya dan berkata kepadanya: “Apakah kamu mengetahui dosa ini? Apakah kamu mengakui dosa ini?” Maka dia menjawab, “Ya wahai Rabb-ku, aku mengetahuinya.” Tiap kali ditunjukkan dosa-dosanya, ia terus mengakuinya sampai-sampai ia merasa pasti binasa. Lalu Allah Ta’ala berfirman kepadanya:

فَإنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ

Maksudnya : “Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosamu di dunia, dan sekarang Aku mengampuni dosa-dosamu.”Kemudian diberikan kepadanya catatan amal kebaikannya.” (Hadis sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, VIII/353 –Fat-h, dan Muslim, no. 2768)

Ini adalah karunia besar yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada seorang mukmin. Allah Ta’ala menutupi aib seorang mukmin dan tidak membongkarnya di depan umum.Siapa yang suka buka aib orang lain Allah akan buka aibnya di akhirat.

Alhamdulillah, Allah Ta’ala telah menutupi dosa-dosa kita yang begitu banyaknya. Oleh itu, kita harus banyak bertaubat kepada-Nya dan memohon ampun kepada-Nya dari segala dosa. Mudah-mudahan Allah Ta’ala menghapus dosa-dosa tersebut.

Adapun orang-orang kafir dan munafiq, mereka akan dipanggil di hadapan seluruh makhluk. Para saksi akan menyeru mereka di hadapan seluruh makhluk:

هَؤُلآءِ الَّذِيْنَ كَذَبُوْا عَلَى رَبِّهِمْ أَلاَ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الظَّالِمِيْنَ (18)

Maksudnya : “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.” (Surah Huud ayat 18)

Firman Allah SWT maksudnya : “Maka takutlah kamu kepada neraka yang bahan bakarnya ialah manusia dan batu-batu. Neraka itu disediakan bagi mereka yang kafir.” (Surah al-Baqarah ayat 24)

“Barangsiapa yang menderhakai Allah dan Rasul-Nya dan melampaui batas larangannya, dimasukkan ke dalam neraka, kekal di dalamnya. Dia menderita seksa yang hina-dina.” (Surah an-Nisaa ayat 14)

“Allah telah menyediakan untuk mereka yang munafik laki-laki mahupun perempuan dan orang kafir itu neraka Jahannam. Mereka itu kekal di dalamnya. Allah melaknati mereka itu dan untuk mereka azab yang kekal.” (Surah at-Taubah ayat 68)

Apakah jin juga dihisab?

Sesungguhnya jin juga akan dihisab kerana mereka juga dibebani syariat. Mereka akan dihisab dan diberikan balasan atas amal mereka. Oleh kerana itu, jin yang kafir juga akan dimasukkan ke dalam neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اُدْخُلُوْا فِيْ أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ فِي النَّارِ (38)

Maksudnya : “Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu.” (Surah al-A’raaf ayat 38)

Demikian pula sebaliknya, bangsa jin yang beriman juga akan masuk ke dalam syurga dan merasakan kenikmatan-kenikmatan yang ada di dalamnya.

Hukuman ke atas sesiapa yang di dapati bersalah dalam perbicaraan ini ialah:

Pertama - Menerima balasan dari makhluk yang dilakukan jenayah itu terhadapnya.

Kedua - Memberi amal kebajikannya kepada orang yang ia aniayakan, di maki hamun, merampas hak orang lain, mengumpat dan memfitnah untuk membayar dengan pahalanya; dan apabila tidak ada lagi pahala untuk diberi kepada orang itu, maka ia terpaksa menanggung kesalahannya.

Dari Abu Hurairah r.a bahawa Nabi S.A.W. bersabda yang bermaksud :
“Tahukah kamu siapakah dia Orang Muflis?”

Sahabat-sahabat baginda menjawab :
“Orang Muflis di antara kami, ya Rasulullah ialah orang yang tidak ada wang ringgit dan tidak ada harta benda.”

Nabi S.A.W. bersabda yang bermaksud :
“Sebenarnya Orang Muflis dari kalangan umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat membawa sembahyang, puasa dan zakat , sedang datangnya itu dengan kesalahan memaki hamun orang ini, dan menuduh orang itu , memakan harta orang orang ini ,menumpah darah orang itu dan juga memukul orang . Maka akan di ambil dari amal kebajikannya serta di beri kepada orang ini dan orang itu , kemudian kiranya habis amal kebajikannya sebelum habis di bayar kesalahan-kesalahan yang di tanggungnya , akan di ambil pula dari kesalahan-kesalahan orang yang di aniayakannya serta di timpakan keatasnya , kemudian ia di humbankan kedalam neraka.” (Hadis Riwayat Muslim dan Turmizi)

Ketiga - Dimasukkan ke dalam penjara yang disediakan Tuhan (Neraka Jahanam)

Untuk menyelamatkan seseorang daripada menghadapi perbicaraan yang tersebut, maka Nabi Muhammad S.A.W. mengingatkan umatnya serta menerangkan jalan keselamatan masing-masing - dalam hadis-hadis yang berikut:

1. Dari Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah S.A.W. bersabda maksudnya : "Sesiapa yang menanggung sesuatu kezaliman yang dilakukan terhadap orang lain, sama ada yang mengenai maruah dan kehormatan atau sebarang perkara yang lain, maka dari sekarang juga hendaklah ia meminta orang itu melepaskannya dengan jalan memaafkan atau menghalalkannya sebelum datangnya masa yang tidak ada padanya wang ringgit atau emas perak untuk membayarnya; bahkan pada masa itu kalau ia mempunyai amal soleh, akan diambil daripada amalnya itu sekadar perbuatan aniaya yang dilakukannya untuk diberi kepada orang itu; kalau ia pula tidak mempunyai amal soleh, maka akan diambil dari kesalahan orang itu serta dibebankan kesalahan itu ke atasnya." (Hadis Riwayat Bukhari)

2. Dari Sa'id bin Zaid r.a., bahawa Nabi S.A.W. bersabda maksudnya : "Sesiapa yang mengambil tanah secara zalim sekalipun sejengkal, akan dibelitkan pada hari kiamat dengan tanah yang diperintahkannya mengangkut sebanyak itu dari tujuh petala bumi." (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

3. Dari Anas bin Malik r.a., katanya: "Rasulullah S.A.W. melarang menyeksa binatang sampai mati dengan jalan mengikatnya untuk dijadikan sasaran panah, rejaman dan sebagainya." (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

4. Dari Ibn Abbas r.a. katanya: "Rasulullah S.A.W. melarang perbuatan melagakan binatang. "
(Hadis Riwayat Tirmizi dan Abu Daud)

5. Dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a., bahawa Nabi S.A.W. bersabda: "Tidak ada seseorang yang melakukan sesuatu perbuatan aniaya terhadap orang lain di dunia dengan tidak menyerah dirinya kepada orang itu untuk membalasnya, niscaya Tuhan akan menyerahkannya kepada orang itu supaya membalasnya pada hari kiamat." (Hadis Riwayat Baihaqi)

Ada pun perkara-perkara yang berkenaan dengan ibadat kepada Allah, maka yang mula-mula dibicarakan ialah ibadat solat lima waktu sehari semalam - sesiapa yang solatnya itu diterima Tuhan maka berjaya dan beruntunglah dia; sebaliknya rugi dan menderita orang yang tidak diterima solatnya. Sesiapa yang didapati solat fardunya terkurang, sama ada terkurang bilangannya, rukun, syaratnya, sunatnya atau khusyuknya maka ditampal dan dicukupkan dengan solat-solat sunatnya jika ada, kalau tidak ada terpulanglah hukumnya kepada keadilan atau kemurahan Tuhan Rabbul `Alamin.

Oleh itu marilah kita bermuhasabah diri kita sendiri supaya memperbanyakkan amal ibadah, amal soleh dan amal kebajikan semata-mata kerana Allah SWT. Semoga kita akan terlepas daripada setiap soalan dan siasatan, timbang amal dan dipermudahkan meniti Siratul Mustaqim tanpa terjatuh ke dalam jurang api neraka. Dapat memasuki syurga Allah SWT dengan rahmat Allah SWT.Aamiin ...aamiin ...aamiin.

Hukum Kencing Secara Berdiri




Soalan:

Assalamualaikum Datuk Mufti, apakah hukum kencing berdiri ?

Jawapan:

Waalaikumussalam w.b.t. Isu ini telahpun dibincangkan oleh para ulama sejak sekian lama. Mereka terbahagi kepada dua pandangan sama ada yang melarang ataupun yang membolehkannya. Berikut merupakan dalil- dalil yang berkaitan dengan isu kencing berdiri. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin A’isyah R.anha beliau berkata:

مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَبُولُ قَائِمًا فَلاَ تُصَدِّقُوهُ مَا كَانَ يَبُولُ إِلاَّ قَاعِدًا ‏

Maksudnya: Sesiapa yang bercerita kepada kalian semua bahawasanya Rasulullah S.A.W itu kencing berdiri maka janganlah kalian mempercayainya. Tidaklah Rasulullah S.A.W itu kencing melainkan dalam keadaan duduk.

Riwayat al-Tirmizi (12)

Juga berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Huzaifah Ibn al-Yaman R.A beliau berkata:

أَتَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم سُبَاطَةَ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ فَجِئْتُهُ بِمَاءٍ فَتَوَضَّأ

Maksudnya: Nabi S.A.W mendatangi tempat buangan sampah sebuah kaum, kemudian baginda kencing secara berdiri. Kemudian baginda meminta air lalu aku membawanya dan baginda pun berwudhuk.

Riwayat al-Bukhari (224)

Kedua-dua hadis di atas dilihat seakan-akan saling bercanggahan di antara satu sama lain. Akan tetapi, kami menyebut di sini berkenaan cara untuk mengharmonikan di antara kedua-dua dalil tersebut adalah dengan mengatakan: Dibolehkan kencing secara berdiri berdasarkan hadis Huzaifah, manakala yang lebih afdhal adalah kencing secara duduk kerana itulah yang paling kerap dilakukan oleh Rasulullah S.A.W.

Kata Imam al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani Rahimahullah: Yang zahirnya baginda melakukannya (kencing secara berdiri) adalah untuk menjelaskan akan keharusannya dan dalam banyak keadaan baginda membuang air kecil secara duduk. Lihat Fath al-Bari Syarah Sahih al-Bukhari, Ibn Hajar (1/330).

Kami juga menyatakan bahawa para ulama yang mengharuskan perbuatan kencing berdiri turut menyebutkan beberapa perkara seperti berikut:

- Hendaklah ia dilakukan di tempat yang sembunyi dari penglihatan manusia lainnya supaya auratnya terpelihara.
- Hendaklah berhati-hati supaya air kecil tidak terpercik ke pakaian.

Wallahu A'lam.

Sumber FB - Mufti Wilayah Persekutuan