Sunday, February 5, 2017
Terus Jadi Mukhlisin
Manusia umumnya jarang menghargai kebaikan. Ada saja yang tidak kena. Yang nampak di mata kasar hanya kekurangan dan kelemahan. Mata hati sering terhijab.
Umpama secawan kopi. Kalau rasanya pahit, gula dipersalahkan sebab terkurang. Kalau terlalu manis gula juga dipersalahkan sebab terlebih. Kalau rasanya sedap dan seimbang, kopi yang dipuji. Peranan gula yang menyedapkannya seolah-olah tidak wujud.
Pun begitu, teruslah membuat kebaikan hingga ke akhir. Kebaikan tidak perlukan pengakuan, penjelasan ataupun bukti. Berbuat baik mengikut keikhlasan hati nurani sendiri.
JADILAH INSAN MUKHLISIN. Walau tidak dipeduli penghuni bumi, tetap dihargai penghuni langit.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Peringatan dari Ustaz Ramli Joned untuk kita renungkan
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu beliau berkata: Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, maksudnya: “ANDAI KAMU TAHU APA YANG AKU TAHU, NESCAYA KAMU AKAN SEDIKIT TERTAWA DAN BANYAK MENANGIS.”… (HR Bukhari dan Muslim)…..
Allahu akbar.. Benar sekali... Kerana kita TIDAK TAHU:
1] Betapa sakitnya sakaratul maut…
2] Betapa dahsyatnya siksa kubur…
3] Betapa panasnya matahari yang didekatkan di Padang Mahsyar..
4] Betapa beratnya ujian melintasi Shirotol Mustaqim…
5] Betapa pedih dan azabnya siksa api neraka….
Menangislah sekarang, kerana dahsyatnya azab Allah, untuk hamba2-Nya yang ENGKAR DAN SUKA MEMBANTAH serta melawan… HARI KIAMAT pasti akan tiba….. YAKINLAH...
Wallahu a'lam... *GAMBAR HIASAN SAHAJA*....
Perit Jadi Muslim Di Rusia
AKU, seorang Muslim Rusia. Aku mengenal Islam dari seorang ulama yang mengajarkannya secara diam-diam, ditengah kuatnya hegemoni komunis yang mengusai negeri ini. Kini, usiaku telah menginjak sembilan puluh lima tahun.
Saat itu aku baru menginjak usia dua puluh lima tahun. Penganut Islam ditindas, agama itu seolah tak diizinkan hidup di Rusia.
“Kami (*Muslim—red) membangun rumah besar dengan ruang terbuka di tengah-tengahnya. Di sisi-sisi lorong rumah, kami akan membangun ruang kedap suara. Ada sebuah pintu rahasia, yang mengarah dari aula menuju ruang ini. Di tempat ini, kami menempatkan botol-botol minuman keras, menempatkan potret Lenin dan tokoh komunis lainnya, layar televisi juga memasang poster-poster pornografi dekat dengan dinding di mana pintu rahasia itu terletak.”
“Setiap kali polisi datang dan menggeledah rumah, mereka tidak akan menemukan apa-apa. Mereka hanya akan melihat botol-botol minuman keras, dan menganggap bahwa keyakinan penghuninya selaras dengan ideologi mereka sendiri. Mereka pergi dengan puas, tertipu oleh apa yang mereka amati. Mereka tak menyadari, hanya beberapa meter dari botol-botol minuman keras itu, anak-anak muda tak berdosa tengah membaca Qur’an.”
“Kami akan mengunci diri dalam ruangan itu selama enam bulan pada satu waktu, mengajar anak-anak bagaimana membaca Qur’an. Bahkan Sahih Bukhari juga diajarkan di sana. Melampaui batas-batas ruang mereka. Angin kelam komunisme bertiup, berlangsung tanpa henti. Tetapi dibalik itu semua, wahyu Allāh dan NabiNya sedang dibacakan dan dihafal.”
Hanya Allāh yang dapat membalas jasa dan dedikasi mereka dalam melestarikan iman umat Islam di daerah penindasan yang penuh dengan ketidakadilan ini. Kontribusi mereka sangat berharga, ini seharusnya menginspirasi umat Islam untuk konsisten mendedikasikan diri mengajarkan Islam meskipun dalam masa-masa sulit.
[Sumber Islampos]
Subscribe to:
Posts (Atom)


